Print ...

Kontributor...

  • Daryanto, Arief; Arifin, Bustanul; Oktaviani; Rina , Editor: Perpustakaan MB-IPB

Download...

Path: TopDisertasiManajemen Agribisnis

Analisis Strategi Daya Saing Industri Kelapa Sawit yang Berkelanjutan /-- 2014

Sustainable Competitiveness Strategy Analysis of Oil Palm Industry

PhD Theses from MBIPB / 2017-03-05 15:50:23
Oleh : Bambang Aria Wisena, Manajemen dan Bisnis -Institut Pertanian Bogor
Dibuat : 2015-08-26, dengan 5 file

Keyword : Creating Shared Value, Efisiensi Lingkungan, Good Corporate Governance, Industri kelapa sawit, Pembangunan berkelanjutan, Strategi Inovasi Berkelanjutan, Sustainable Competitive Advantage Creating Shared Value, Eco-Efficiency, Good Corporate Governance, Oil palm industry, Sustainable development, Sustainable Competitive Advantage, Sustainable Value Innovations
Subjek : MANAJEMEN AGRIBISNIS
Nomor Panggil (DDC) : 23(5DM)Wis a

Pada saat ini Indonesia merupakan negara produsen utama CPO dengan volume tertinggi di dunia sebesar 28 juta ton per tahunnya. Industri kelapa sawit di Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang terutama disebabkan oleh biaya produksinya yang lebih rendah dan posisinya yang sangat strategis di pusat industri CPO dunia di Asia Tenggara.


Berbagai permasalahan yang terjadi menjadi hambatan dan tantangan dalam pengembangan industri kelapa sawit secara berkelanjutan, sehingga diperlukan kebijakan yang jelas dan tegas mengenai pembatasan dan pengelolaan perkebunan kelapa sawit, agar tidak ada pihak yang dirugikan. Langkah yang ditempuh oleh para pemangku kepentingan di industri kelapa sawit untuk menyelaraskan kepentingan masyarakat, memelihara kelestarian lingkungan dan permintaan pasar yang mendesak agar minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan adalah membentuk Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Namun demikian, pembentukan RSPO juga tidak luput dari kontroversi dari beberapa LSM besar di dunia. Dengan demikian bukan berarti dengan RSPO industri sawit tidak ada lagi tantangannya (RSPO 2009).


Selain itu, kebijakan pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan industri kelapa sawit dan perkebunan masih dipertanyakan. Terutama yang berkaitan dengan penegakan hukum (law enforcement), birokrasi dan bahkan AMDAL masih rendah, sehingga Indonesia dinilai belum siap dan kalah daya saing dibandingkan dengan Malaysia. Malaysia sudah menjual berbagai produk turunan yang bernilai tambah lebih tinggi, sedangkan Indonesia masih didominasi ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO). Padahal bukan berarti Indonesia tidak mampu menghasilkan berbagai produk turunan minyak sawit, namun belum didukung oleh kebijakan yang kondusif.


Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan maka tujuan kajian penelitian ini yaitu mengindentifikasi dan menjelaskan posisi daya saing industri kelapa sawit Indonesia, menentukan indikator dan prioritas dalam merumuskan kebijakan sustainable development industri kelapa sawit di Indonesia, dan merumuskan strategi bisnis dan kebijakan untuk terus meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia yang berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development)


Metode analisis yang digunakan dalam membangun model pembangunan berkelanjutan industri kelapa sawit yaitu gap analysis dengan menggunakan faktor-faktor daya saing International Institute of Management Development (IMD) dan 12 pilar daya saing World Economic Forum (WEF), Strategic Assumption Surfacing and Testing (SAST), Analytic Network Process (ANP), dan Interpretive Structure Model (ISM).


Hasil analisis Gap menunjukkan bahwa gap terbesar pada analisis daya saing model IMD terlihat pada kerangka institusi, yaitu meliputi stabilitas nilai tukar, suku bunga, biaya modal, transparansi kebijakan pemerintah, birokrasi, suap, korupsi, dan lain-lain. Demikian juga pada analisis daya saing model WEF, yang menjadi masalah utama adalah institusi yaitu, institusi publik (perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI), etika dan korupsi, sistem hukum yang independen, efisiensi pemerintah, dan keamanan) dan institusi swasta (etika korporat dan akuntabilitas). Baik IMD maupun WEF tidak menjadikan Pembangunan Berkelanjutan sebagai faktor/pilar daya saing. Namun Pada saat ini WEF telah memasukkan penyesuaian pilar keberlanjutan sosial dan lingkungan secara terpisah dari 12 pilar daya saing yang telah untuk melengkapi Global Competitiveness Index. Sementara itu hasil SAST, diketahui bahwa terdapat sembilan indikator utama asumsi stratejik yang memiliki tingkat kepentingan dan kepastian tertinggi dimata pemangku kepentingan, yaitu: manajemen limbah, aliran manfaat ekonomi, terpenuhinya syarat-syarat legal, kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan, proses legal yang transparan, mengikuti tatakelola perkebunan yang baik, pelatihan dan pengembangan, kebijakan standar dan kode etik, independen, transparan dan akuntabilitas.


Berdasarkan hasil ANP, hasil pemetaan strategi dimana Keunggulan Biaya rendah dan Proses Organisasi yang memiliki nilai outcome BOCR tertinggi sehingga strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saing industri berdasarkan kebijakan pembangunan berkelanjutan adalah Strategi 1 yaitu Efisiensi Lingkungan (Eco-Efficiency), sedangkan hasil ANP Benefits, Costs dan Opportunities telah menunjukkan bahwa industri kelapa sawit masih lebih mengedepankan aspek ekonomi, dibandingkan dengan pilar sosial dan lingkungan hanya pada kriteria Risks yang memprioritaskan resiko Sosial. Hasil ISM secara keseluruhan menunjukkan bahwa kebijakan yang menjadi faktor kunci peningkatan daya saing industri kelapa sawit yang berkelanjutan ke depan harus lebih berorientasi pada aspek lingkungan dan aspek sosial. Hasil ISM juga menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah merupakan faktor yang dinilai paling berpengaruh terhadap daya saing industri kelapa sawit yang berkelanjutan baik dari sisi penegakan hukum (perlindungan masyarakat dan perlindungan investasi) dan penerapan ISPO (sebagai bentuk kebijakan yang menekankan aspek legal, berorientasi sosial dan lingkungan). Setelah strategi eco - efficiency digabungkan dengan Sustainable Value Innovation, maka strategi berkelanjutan yang disarankan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan ide Creating Shared Value yang mendorong terciptanya Sustainable Competitive Advantage (SCA)


Keluaran lain dari penelitian ini adalah posisi daya saing Indonesia masih tinggi bukan berasal dari produktivitas tinggi tapi lebih bertumpu pada keunggulan biaya rendah akibat murahnya biaya operasional absolut yang berasal dari Upah Minimum, biaya umum dan biaya hidup yang rendah. Meskipun regulasi telah diberlakukan, kondisi saat ini masih belum sepenuhnya dapat mendukung daya saing industri kelapa sawit yang berkelanjutan, terutama efisiensi pemerintahan (kebijakan), penegakan hukum dan regulasi. Sembilan indikator keberlanjutan utama yang dihasilkan dari penelitian ini semua berkaitan dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG).

Deskripsi Alternatif :

Indonesia is a major CPO producing country with the world's highest volume of 28 million tons per year. Indonesian palm oil industry has a variety of advantages, primarily due to a lower production costs and a very strategic position in the center of the world CPO industry in the peninsula of Malacca.


Various happening problems become obstacles and challenges in the development of oil palm industry in a sustainable manner, thus a clear and unequivocal policies on the restriction and management of oil palm plantations are necessary to avoid the presence of disadvantaged party. The step taken by the stakeholders in oil palm industry to harmonize community interests, maintain environmental sustainability and market demand which urges to produce palm oil in a sustainable manner is to form the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). However, the formation of RSPO is also evoking controversy from several major NGOs in the world. Thus, with the formation of RSPO, it does not mean that oil palm industry has no challenges (RSPO 2009).


In addition, Indonesian government policies related to the oil palm industry and plantations are still questionable. Particularly those related to the law enforcement, bureaucracy and even EIA (Environmental Impact Assessment) are still low, thus Indonesia is yet to be ready and losing competitiveness to Malaysia. To date, Malaysia has been selling a variety of derivative products with higher added value, while Indonesia is still dominated by crude palm oil (CPO) export. Whereas it does not mean that Indonesia is unable to produce various palm oil derivative products, but it is yet to be supported by a conducive policies.


According to the aforementioned background, the aims of this study are to identify and explain the position of the competitiveness of Indonesian oil palm industry, determine the indicators and priorities in formulating sustainable development policies of oil palm industry in Indonesia, and policy strategies to achieve sustainable competitive advantage of Indonesian oil palm industry.


Within a research on the Sustainable Development Policy Strategies study towards Oil Palm Industry Competitiveness, method of analysis used in constructing a sustainable development model of oil palm industry is the gap analysis using competitiveness factors of the International Institute of Management Development (IMD) and 12 competitiveness pillars of the World Economic Forum (WEF), Strategic Assumption Surfacing and Testing (SAST), Analytic Network Process (ANP), and Interpretive Structural Modeling (ISM).


Gap analysis results showed that the biggest gap in the competitiveness analysis of IMD model was seen in the framework of institution, which included the stability of the exchange rate, interest rate, capital costs, transparency of government policy, bureaucracy, bribery, corruption, and others. Likewise in the competitiveness analysis of WEF model, the main problem was the institution, such as public institution (protection of Intellectual Property Rights (IPR), ethics and corruption, independent legal system, government efficiency, and security) and private institution (corporate ethics and accountability). Both IMD and WEF did not make Sustainable Development as a factor/pillar of competitiveness. Howerver, WEF currently analyze the two areas of sustainability – social and environmental – are treated as independent adjustment in Global Competitiveness Index. Meanwhile in SAST results, it was known that there were nine main indicators of strategic assumption that have the highest importance and certainty level from the point of view of stakeholders, i.e.: waste management, economic benefits flow, legal requirements fulfillment, compliance with laws and regulations, transparent legal process, following good plantation control, training and development, standard policy and code of ethics, independent, transparency and accountability.


According to ANP results, the mapping strategy demonstrated that Low Cost Advantage and Organizational Process showed the highest BOCR outcome value thus an appropriate strategy to improve the competitiveness of the industry based on the sustainable development policy was Strategy 1, Eco-Efficiency, whereas the ANP results of Benefits, Costs and Opportunities have shown that that oil palm industry was still emphasizing on economic aspect, compared to the social and environmental pillars on Risks criterion that prioritized the social risks. Overall ISM results indicate that the policy that becomes a key factor of the improvement of sustainable oil palm industry competitiveness in the future must be oriented to the environmental and social aspects. ISM results also indicate that government policy is considered as the most influential factor for the competitiveness of sustainable oil palm industry both in terms of law enforcement (public protection and investments protection) and ISPO application (as a form of policies that emphasize legal aspect as well as social and environmental oriented). As the sustainable strategy is the combination of eco – efficiency and Sustainable Value Innovation, then we find that this proposed strategy is mostly inline with the big idea of Creating Shared Value (CSV). In this particular circumstances, it will provide the industry’s Sustainable Competitive Advantage (SCA)


The study results of the Sustainable Development Policy Strategy of Oil Palm Industry Competitiveness have several conclusions, i.e. Indonesia's competitiveness is still high, not due to the higher productivity but rather relies on low cost advantage as a result of the low absolute operational cost derived from the Minimum Wages, general costs and low living cost. Although the regulations have been applied, the condition is still not thoroughly able to support the competitiveness of sustainable oil palm industry, especially the government efficiency (policy), law and regulation enforcement. The main sustainability indicators resulted in this research has a very strong relation to a basic principle of the implementation of good corporate governance.

Copyrights : Copyright � 2001 by Graduate Program of Management and Business - Bogor Agricultural University (MB IPB). Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherMBIPB
OrganisasiManajemen dan Bisnis -Institut Pertanian Bogor
Nama KontakPerpustakaan sB-IPB
AlamatGed. SB-IPB, Jl. Raya Pajajaran
KotaBogor
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon+62 251 8313813
Fax+62 251 8318515
E-mail Administratorperpus{at}mma.ipb.ac.id
E-mail CKOadmin{at)mb.ipb.ac.id