Print ...

Kontributor...

  • Hakim, Dedi Budiman; Maulana, Tubagus N.A.; Manurung, Adler H., Editor: Perpustakaan MB-IPB

Download...

Path: TopDisertasiManajemen Keuangan

Determinan Marjin Bunga Bersih Bank Umum Di Indonesia /-- 2014

Determinants of Commercial Banks’ Net Interest Margin in Indonesia

PhD Theses from MBIPB / 2017-03-05 15:50:23
Oleh : Pamuji Gesang Raharjo, Manajemen dan Bisnis -Institut Pertanian Bogor
Dibuat : 2015-08-27, dengan 5 file

Keyword : marjin bunga bersih, bank umum komersial, data panel, dan uji hausman. net interest margin, commercial bank, panel data, hausman test
Subjek : MANAJEMEN KEUANGAN
Nomor Panggil (DDC) : 11(6DM)Rah d

Industri perbankan merupakan salah satu pelaku ekonomi yang memiliki peran sentral bagi perekonomian suatu negara, khususnya bagi Indonesia yang perekonomiannya masih sangat bergantung kepada perbankan sebagai sumber utama dalam menggerakan roda perekonomian. Fungsi intermediasi keuangan yang dilaksanakan perbankan secara efisien akan mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara.



Salah satu indikator yang dapat digunakan dalam mengukur efisiensi bank adalah marjin bunga bersih (net interest margin). Dengan marjin bunga bersih yang semakin rendah, biaya sosial (expected social cost) yang ditanggung oleh masyarakat terhadap kegiatan intermediasi yang dilakukan perbankan juga akan semakin rendah. Biaya intermediasi yang efisien diindikasikan dengan suku bunga bank yang rendah yang dapat merefleksikan efektivitas kebijakan moneter, stabilitas keuangan, dan sistem perbankan yang kompetitif. Sebaliknya, biaya intermediasi yang tinggi akan mengurangi insentif bagi pelaku-pelaku ekonomi.



Marjin bunga bersih (NIM) juga merupakan salah satu rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas bank. Semakin tinggi NIM merefleksikan tingkat keuntungan bank yang semakin tinggi. Pada sisi lain, NIM yang tinggi sering dikaitkan dengan terdapatnya inefisiensi dalam sistem perbankan, terutama di negara-negara berkembang karena biaya yang timbul sebagai akibat inefisiensi tersebut dialihkan kepada nasabah dengan membebankan suku bunga kredit yang lebih tinggi. NIM yang tinggi juga mengindikasikan adanya praktik pemberian kredit dengan risiko kredit yang tinggi sehingga dapat menimbulkan kerugian dan disintermediasi perbankan.



Hingga saat ini perbankan Indonesia memiliki NIM yang tinggi apabila dibandingkan dengan perbankan di negara-negara lain, terutama perbankan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Bank Indonesia selaku otoritas perbankan di Indonesia senantiasa berupaya mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit dan NIM ke tingkat yang wajar. Salah satu upaya yang dilakukan Bank Indonesia adalah dengan menerbitkan paket kebijakan pada awal tahun 2011 guna meningkatkan efisiensi serta menurunkan tingkat suku bunga kredit ke batas yang wajar, diantaranya mewajibkan perbankan untuk mempublikasi suku bunga dasar kredit (prime lending rate) kepada nasabahnya.



Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan yang mempengaruhi NIM perbankan di Indonesia dengan menggunakan variabel internal (bank specific’s factors) maupun variabel eksternal. Penelitian ini juga mengkaji keragaman NIM secara industri maupun berdasarkan kelompok bank umum.



Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa NIM perbankan di Indonesia secara signifikan dipengaruhi positif oleh variabel internal dan variabel eksternal pada tingkat signifikansi yang berbeda-beda. Variabel internal yang mempengaruhi NIM mencakup pertumbuhan aset (LNSIZE), kecukupan permodalan bank (CAR), profitabilitas (ROA), efisiensi (BOPO), dan likuiditas (LDR). Variabel peubah eksternal yang mempengaruhi marjin bunga bersih perbankan di Indonesia adalah suku bunga acuan (LPS), sedangkan pangsa pasar kredit (MPR) mempengaruhi NIM perbankan Indonesia secara tidak signifikan.



Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa determinan NIM untuk masing-masing kelompok bank umum di Indonesia berbeda satu dengan lainnya. Pada kelompok Bank Persero, NIM dipengaruhi oleh pertumbuhan asset (LNSIZE), permodalan (CAR), profitabilitas (ROA), efisiensi (BOPO), likuiditas (LDR), dan suku bunga acuan (LPS). Pada kelompok Bank Umum Swasta Nasional, NIM dipengaruhi secara signifikan oleh pertumbuhan asset, permodalan, likuiditas (GWM), dan pangsa pasar kredit (MPR). Pada kelompok Bank Pembangunan Daerah, variabel yang mempengaruhi NIM adalah pertumbuhan aset, risiko (NPL), profitabilitas, efisiensi, likuiditas, dan suku bunga LPS. Pada kelompok Bank Asing, NIM dipengaruhi oleh risiko (NPL), efisiensi (BOPO), likuiditas (GWM), dan suku bunga LPS..



Perbedaan variabel yang mempengaruhi masing-masing kelompok bank tersebut karena adanya perbedaan karakteristik pasar, bisnis inti (core business), kompleksitas usaha dan sumber pendanaan. Masing-masing kelompok bank tersebut juga diindikasikan senantiasa ingin mempertahankan NIM yang stabil pada level tertentu dalam periode waktu tertentu.



Sebagai dampak terjadinya krisis pada tahun 2007, Basel Committee telah menerbitkan Basel III Accord yang telah juga diadopsi oleh Bank Indonesia yang antara lain mencakup ketentuan permodalan dan likuiditas perbankan. Untuk itu perlu dikaji lebih lanjut seberapa besar regulasi dan ketentuan tersebut mempengaruhi marjin bunga bersih perbankan di Indonesia.

Deskripsi Alternatif :

Commercial banks are one of the economic actors who have a vital role in the economy of a country. It is especially for a country whose economy still dependent on the presence of banks as the main source of financing for economic activities.


If banks implement the financial intermediation function efficiently, they will encourage the economic growth of a country. One of the indicators that can be used in measuring the efficiency of banks is net interest margin. High net interest margin is often associated with the presence of inefficiencies in the banking system, particularly in developing countries, due to costs incurred as a result of the inefficiency which are transferred to bank customers by charging high interest rates. In contrast to the lower net interest margin, the expected social cost incurred by the public to banking intermediation activities undertaken will also be low. Efficient intermediation costs are indicated by low interest rates and reflect the effectiveness of monetary policy, well maintained financial stability, and competitive banking system. High intermediation costs would reduce the incentive for economic actors.


Interest margin is one of the indicators that can be used in assessing the profitability of banks. Thus, the higher the level of interest margin which is reflected, the higher profitability of the bank and bank stability is well-maintained. Under certain conditions, high net interest margin is indicated with a high risk premium, while the conditions of increasing competition will encourage speculative behavior of the banking system that could lead to financial instability.


In general, there are behaviors towards the commercial banks in Indonesia, which always expects to maintain a stable net interest margin at a certain level in the long term. It is intended to be able to sustain the achievement level of return that has been predetermined by the owner or ultimate shareholder of the bank. Thus, the high net interest margin is not defined as the low level of efficiency of Indonesian commercial banks, but rather reflects the high asymmetric information and the high level of profitability of the bank's management to be achieved within the framework of the capital increase in order to maintain organic growth in bank assets. It may also reflect the presence of lending practices with a high credit risk that banks should establish loan loss reserves which are large enough.


The purpose of this research is to study and analyze the determinant factors of commercial banks’ interest margin in Indonesia, both internal factors (bank specific factors) and external factors. Internal factors are selected under this study consists of several aspects such as growth of the bank's assets, profitability, efficiency, capital adequacy, liquidity, and risk, meanwhile external factors are market power and interest rates.


This study applied fixed effects on a panel data regression model to a panel of Indonesian commercial banks that covers the period 2008 – 2012. The results show that the net interest margin of Indonesian commercial banks are affected by internal and external variables on a different level of significance.


The results of this study indicate that the determinant of NIM each bank group of commercial banks in Indonesia are determined by the characteristics of business, business complexity, and sources of funding of the bank group. Commercial banks in Indonesia also indicate that they always wants to maintain NIM stable at a certain level within a certain time period.

Copyrights : Copyright � 2001 by Graduate Program of Management and Business - Bogor Agricultural University (MB IPB). Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherMBIPB
OrganisasiManajemen dan Bisnis -Institut Pertanian Bogor
Nama KontakPerpustakaan sB-IPB
AlamatGed. SB-IPB, Jl. Raya Pajajaran
KotaBogor
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon+62 251 8313813
Fax+62 251 8318515
E-mail Administratorperpus{at}mma.ipb.ac.id
E-mail CKOadmin{at)mb.ipb.ac.id